PANGKALPINANG – Pemerintah Kota Pangkalpinang mengintensifkan kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai salah satu upaya menjaga ketersediaan sekaligus mengendalikan harga bahan pangan di tengah masyarakat.
Wali Kota Pangkalpinang Saparudin atau Prof Udin mengatakan, kegiatan pangan murah perlu diperluas, terutama ke wilayah yang masyarakatnya membutuhkan akses bahan pangan dengan harga terjangkau.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri sekaligus meninjau Bazar Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K), Gerakan Pangan Murah (GPM), dan Cek Kesehatan Gratis yang digelar TP PKK Kota Pangkalpinang di Taman Mandara, Kamis (24/9/2026).
“Ini saya minta kepada Dinas Pangan dan Pertanian untuk mengadakan kegiatan pangan murah ini dan harus diintensifkan,” kata Prof Udin.
Menurutnya, pengendalian harga pangan tidak cukup hanya dilakukan melalui operasi pasar, tetapi juga perlu didukung dengan peningkatan produksi pangan di tingkat masyarakat.
Pemkot Pangkalpinang, mendorong kelompok masyarakat untuk menanam berbagai kebutuhan pangan harian seperti sayuran dan cabai.
“Kita juga mengajak masyarakat untuk bisa menanam kebutuhan sehari-hari, seperti sayur dan cabai. Sehingga ini bisa membantu meringankan beban keluarga dan masyarakat,” ujarnya.
Prof Udin menyebut saat ini terdapat 21 kelompok yang aktif menanam sayuran. Dengan pola tanam yang dilakukan, hasil panen dapat diperoleh dalam waktu relatif singkat.
“Ini sudah kita tanyakan, mereka rutin melaksanakan. Sekitar 25 hari sudah panen,” katanya.
Hasil produksi tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi kebutuhan anggota kelompok, tetapi juga dapat dipasarkan kepada masyarakat. Menurut Prof Udin, pola ini dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi masyarakat.
“Kalau ada lebihnya lagi bisa dijual di luar anggota. Seperti kegiatan hari ini, mereka menjual sayur-mayur,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat juga mendapatkan akses bahan pangan dengan harga lebih terjangkau. Bulog turut menyediakan beras dengan harga murah, sementara kelompok masyarakat menjual hasil pertanian.
Prof Udin mengatakan upaya tersebut diharapkan dapat membantu mengendalikan tekanan harga pangan di Pangkalpinang.
Selain pangan murah, kegiatan tersebut juga diisi dengan pemeriksaan kesehatan gratis serta bazar produk UP2K TP PKK dari kecamatan se-Kota Pangkalpinang.
Prof Udin mengapresiasi TP PKK Kota Pangkalpinang bersama Dinas Pangan dan Pertanian serta Dinas Kesehatan yang berkolaborasi menggelar kegiatan tersebut.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Bulog, distributor, kelompok wanita tani, serta pelaku UP2K TP PKK kecamatan yang ikut berkontribusi.
Terkait harga ayam, Prof Udin mengakui komoditas tersebut masih menghadapi persoalan pasokan. Tingginya permintaan, termasuk untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG), turut memengaruhi ketersediaan ayam.
“Kebutuhannya lebih banyak daripada suplainya, sehingga suplai menjadi agak susah,” ujarnya.
Menurut dia, Pangkalpinang masih mengandalkan pasokan ayam dari luar daerah karena keterbatasan lahan untuk pengembangan peternakan di wilayah perkotaan.
Karena itu, Pemkot Pangkalpinang mendorong daerah kabupaten di sekitar Pangkalpinang untuk meningkatkan produksi ayam. Selain memenuhi kebutuhan Kota Pangkalpinang, pengembangan tersebut juga dinilai dapat menjadi sumber pemasukan bagi daerah penghasil.
“Karena untuk di kota tidak mungkin kita pelihara ayam dalam skala besar. Kita minta mungkin di kabupaten-kabupaten untuk bisa mengembangkan, sehingga juga menjadi pemasukan,” katanya.
Prof Udin berharap kolaborasi antara pemerintah, TP PKK, kelompok masyarakat, distributor dan pelaku usaha dapat terus diperkuat untuk menjaga ketersediaan pangan sekaligus membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.(Haris)
